[REVIEW] Film “Love For Sale 2”, Ketika Menikah Menjadi Sebuah Keharusan

Masih ingat dengan Richard Ahmad dan Arini Kusuma? Begini kabar mereka sekarang…

Mungkin sebagian dari kalian sudah pernah menonton kisah cinta Richard si bujang lapuk pemilik percetakan dengan Arini Kusuma, gadis yang disewa untuk menghadiri pernikahan temannya. Namun siapa sangka, 45 hari bersama Arini membuat Richard jatuh cinta lagi sekaligus mengalami patah hati terbesarnya.

Di Love For Sale 2, Richard hadir dengan masih mencari keberadaan Arini. Namun sang gadis memulai kisah barunya sendiri. Penasaran? Langsung saja baca sinopsis singkatnya di bawah ini.

Love For Sale 2

Judul Film : Love For Sale 2
Sutradara : Andibachtiar Yusuf
Penulis Skenario : Andibachtiar Yusuf dan Mohammad Irfan Ramly

Sinopsis Singkat

Indra “Ican” Tauhid Sikumbang (diperankan oleh Adipati Dolken), pria berdarah Padang usia 32 tahun, tinggal di Jakarta bersama ibunya, Ros (diperankan oleh Ratna Riantiarno) yang konservatif. Ican yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak bidang Periklanan, memiliki pemikiran yang maju. Namun semaju apapun cara berpikirnya, Ican tetap memiliki ibu yang sangat kolot, agamis dan berpegang teguh pada adat Minang.

Love For Sale 2

Hal itu membuat Ican didesak untuk segera menikah. Penyebabnya tak lain karena Ros memiliki pengalaman yang dianggapnya cukup berat dari dua anaknya yang lain yang telah lebih dulu berkeluarga. Anandoyo “Ndoy” Tauhid Sikumbang (diperankan oleh Ariyo Wahab), kakak Ican, dianggap salah memilih istri karena menikahi seorang janda anak dua. Sedangkan Yunus “Buncun” Tauhid Sikumbang (diperankan oleh Bastian Steel), adik Ican, terpaksa menikah karena “telat nyabut”. Untuk itulah Ican menjadi harapan Ros untuk mengobati kekecewaannya dalam menyikapi pernikahan anak-anaknya yang lain.

Ros melakukan berbagai cara seperti mengenalkan perempuan yang dianggapnya cocok dengan Ican, agar Ican segera menikah. Tekanan juga dirasakan dari tetangga-tetangga Ican yang mendesaknya untuk segera mengakhiri masa lajang. Akhirnya Ican memakai jasa aplikasi Love.Inc, sebuah aplikasi pacar sewaan yang dulu pernah dipakai oleh Richard (Love For Sale 1). Tak lama kemudian Arini Chaniago (diperankan oleh Della Dartyan) datang dan memperkenalkan diri sebagai kawan dekat Ican saat berkuliah di Bandung, berdarah Minang-Makassar, jago memasak, dan penuh dengan kelembutan. Arini pun berhasil merebut hati Ros, dan ingin menjadikannya sebagai menantu.

Perlahan kehidupan Ros berubah menjadi lebih ceria. Sikapnya yang dingin terhadap menantunya pun perlahan mulai membaik. Seiring dengan waktu juga, Ican yang melihat Arini dengan tulus sayang kepada ibunya, perlahan mulai jatuh cinta dengan Arini. Akankah kisah cinta Ican dan Arini berakhir di pelaminan? Bagaimana kisah keluarga Sikumbang selanjutnya? Sebaiknya kalian menonton film ini langsung di bioskop terdekat.

Gambar yang Berbicara

Bagi yang sudah menonton Love For Sale 1, tentu sudah tahu kalau film ini bercerita tentang seorang pria lajang yang sukses meniti karier, namun kesepian. Lewat Arini Kusuma, Richard akhirnya bisa merasakan jatuh cinta lagi, walaupun kemudian ia menglami patah hati yang begitu besar.

Berbeda dengan film pertamanya, film Love For Sale 2 bertema keluarga. Lebih tepatnya sebuah keluarga Minang yang masih memegang teguh prinsip-prinsip adat bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menikah. Hal ini digambarkan secara dalam lewat tokoh Ros dan tetangga-tetangganya yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat di Indonesia pada umumnya.

Kekuatan film Love For Sale 2 ini juga adalah dari dialog-dialog dan juga pemilihan pemeran yang sangat pas. Dialog sederhana di meja makan, obrolan ibu-ibu pengajian, hingga hiruk pikuk kehidupan bertetangga digambarkan dengan begitu nyata. Rasanya seperti melihat sebuah dinamikan keluarga secara langsung, karena dialog yang ringan dan apa adanya. Budaya Minang yang kental pun tertuang dalam dialog sederhana yang tidak dibuat-buat.

Untuk karakter pun, saya merasa semua pas memainkan perannya. Lewat peran mereka saja, penonton sudah bisa menebak kisah masing-masing tanpa penjelasan panjang.

Konflik Sederhana Namun Relevan

Konflik yang dibangun dalam film ini bisa dibilang sederhana. Yakni, perbedaan perspektif antara baby boomer yang dalam film ini diwakili oleh Ibu Ros dengan ketiga anaknya. Konflik yang dibangun antara lain masalah pekerjaan, pernikahan, hingga perceraian. Semua dikemas secara apik dan relevan dengan kondisi yang ada di Indonesia.

Para baby boomers yang hidupnya cenderung berorientasi pada pencapaian dalam karir secara konsisten demi kesejahteraan anak cucu mereka kelak, digambarkan secara baik lewat peran Ibu Ros yang menginginkan Ican menjadi PNS seperti kakaknya. Bagi Ibu Ros, pekerjaan PNS lebih jelas daripada pekerjaannya di sebuah perusahaan periklanan. Sementara Ican tetap mempertahankan prinsipnya untuk bekerja sesuai dengan apa yang ia suka.

Begitu juga dengan perceraian. Ibu Ros menganggap bahwa pernikahan adalah suatu ikatan yang sakral yang harus dijaga sampai akhir hayat. Ia begitu terpukul ketika Buncun digugat cerai oleh istrinya. Namun ia tidak bisa menyalahkan keadaan. Wanita mana yang bisa bertahan dengan pemadat? Sikap Ibu Ros yang bijak pun menyentil kita, bahwa seburuk apapun periaku sang anak, ia tidak akan pernah meninggalkan anaknya dan akan selalu menerima mereka.

Konflik berikutnya yang tidak kalah menarik adalah tentang pernikahan. Mungkin banyak dari kalian yang lajang seringkali ditanyakan “kapan nikah?”. Hidup di Indonesia, bagi kita yang sudah berusia di atas 25 tahun, rasanya tak asing mendapat pertanyaan ini entah dari keluarga, teman dekat, tetangga, ataupun rekan kerja. Pertanyaan tersebut seolah-olah harus dijawab dengan undangan pernikahan.

Tidak jarang label bujang lapuk atau perawan tua disematkan oleh orang lain. Belum lagi penilaian bahwa kita terlalu pemilih, standar yang terlalu tinggi, atau bahkan dikatakan penyuka sesama jenis tak jarang dikatakan oleh lingkungan sekitar. Padahal tidak semua orang memiliki tujuan hidup untuk menikah. Contohnya saja Ican, yang lebih senang bermain-main dengan wanita yang dikenalnya daripada harus berkomitmen. Lebih senang berkarir sesuai dengan yang ia suka daripada mengikuti ambisi orang tua.

Saya pun mengalami hal ini di keluarga. Untunglah saya memiliki orang tua dengan pemikiran yang lebih maju, bahwa kebahagiaan dan pencapaian hidup tidak ditentukan lewat ikatan pernikahan. Namun tetap saja konflik yang dibangun dalam film tersebut terasa nyata bagi saya yang selalu didesak untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Seperti Ibu Ros, ibu saya pun menganggap bahwa PNS adalah pekerjaan yang jelas dan menjamin masa tua nanti.

Sinematografi dan Tata Suara yang Apik

Setting serta sinematografi film Love For Sale 2 saya katakan sangat baik. Karena film ini mampu menggambarkan kehidupan sosial bermasyarakat di Indonesia dengan sangat orisinal. Film ini menyuguhkan kehidupan ibukota yang realistis. Kehidupan bertetangga di gang sempit di daerah Jatinegara dan juga hiruk pikuk di jalanan serta transportasi umum, sungguh terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Adegan ibu-ibu yang membungkus makanan seusai pengajian, obrolan antar tetangga di sore hari, para lelaki yang bermain gaple, hingga suasana di ruang publik disuguhkan dengan begitu baik. Saya merasa film ini lebih mirip sebuah film dokumenter tentang keluarga Minang yang tinggal di Kampung Jatinegara dengan segala permasalahan di dalamnya.

Setiap adegan dibuat dengan realistis. Tidak perlu ada makan di restoran mewah, cukup makan sate padang pinggir jalan untuk adegan berkencan. Tidak perlu ada adegan romantis dalam mobil, cukup bergandengan tangan di Trans Jakarta. Sehingga setiap adegannya terasa lebih dekat dengan penonton.

Tata suara film Love For Sale 2 ini terbilang cukup baik. Detil efek suara sangat diperhatikan. Bahkan suara knalpot motor dan suara tukang bakso pun terdengar. Belum lagi musik dan pilihan lagu yang sangat pas, menambah kekuatan film ini.

Arini si Multitalenta

Kekuatan film Love For Sale 2 ini adalah peran Arini yang kali ini mendominasi hampir sebagian film. Kalau di Love For Sale 1 kita menjumpai sosok Arini Kusuma yang cantik, perhatian, jago memasak, dan suka bola. Selain itu Arini Kusuma mampu membawa kebahagiaan bagi Richard dan juga pegawai percetakan milik Richard. Arini Kusuma mampu menjembatani konflik antara Richard dengan pegawainya, membawa suasana bos dan karyawan percetakan menjadi lebih baik lagi.

Arini kemudian kembali di Love For Sale 2, namun kali ini bukan sebagai Arini Kusuma melainkan sebagai Arini Chaniago. Seorang Makassar-Minang yang cantik, ramah, rajin membantu, dan pandai mengambil hati calon mertua. Bukan hanya itu, Arini Chaniago pun sukses mengambil hati keluarga besar Sikumbang dan juga tetangganya. Ia tampil sebagai jembatan konflik di keluarga Sikumbang.

Della Dartyan sangat baik memainkan peran Arini. Dalam dua film tersebut, Arini tampil sebagai sosok “penjahat” yang profesional dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaannya. Tidak salah kalau film ini disebut the most horror love story. Penasaran gimana horornya film ini? Langsung saja ke bioskop terdekat selagi masih ditayangkan. Sebagai penutup, saya akan mengutip salah satu dialog dari Arini.

“Ketika memang harus selesai, semua itu bukan salah kamu, salahku, atau salah kita yang menjalaninya. Tetapi, karena waktu yang telah mengizinkan”

-Arini Chaniago-

Akhir kata, saya merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh kawula muda dan orang tua, karena dapat menjadi pelajaran mengenai pentingnya menghargai prinsip hidup orang lain.

Baca Juga: [Review] Film “Dua Garis Biru” (2019), Problematika Remaja dan Peran Orangtua

Rating versi kinemadrian.com : 8.6/10

42 Komentar

  1. Saya membaca Review film ‘Love for Sale-2’ ini sambil membayangkan kondisi realnya. Kebetulan saya berasal dari tanah minang. Bersyukur orangtua dan para ninik mamak saya ndak ada yang menyinggung soal pernikahan. Mereka yakin jodoh itu sudah ditentukan waktunya oleh Tuhan. Namun sebagai potret kehidupan, bolehlah ide film tersebut ya kak….

  2. Timelinenya itu Arini ke Ican dulu, baru ke richard.
    Ican belum sukses, kalo udah sukses dia pasti ga bayar love.inc dengan kredit. Tapi Ican ga kesepian, dia bahagia. Dia ke Love.inc biar ibunya tenang ga bawel terus.

    Ini bukan horror love story, sebab dari awal kita semua tau bahwa Arini hanya bekerja.

    Bdw.. 0,6 nya atas dasar apa? Wkwkw

  3. Awalnya nonton film ini agak pesimis, secara ga nonton yang love for sale 1. Tapi pas nonton hanyut terbawa suasana. Ga salah Moses bilang film ini bagus banget. Ratna Riantiarno sebagai bu Ros memang mumpuni, maklum aktor kawakan.

  4. Awalnya ngira love for sale 2 ini bakalan kelanjuran arini sama richard ketemu lagi, setelah arini ninggalin richard. Tapi ternyata si arini ini masih menjadi “agen” aplikasi dating itu ya. Iya bener setuju banget sih kalo disebut the most horror love story. Nonton yg pertama aja endingnya nyesek, gimana yang ke dua ini ya. Belum nonton, tapi lihat review yg mas moses tulis sepertinya ga kalah bagus dari yang pertama.

    • Wahhh dlu tahu sih film love for sale, tapi gak nonton. Ternyata udah ada aja love for sale 2. Kalau baca reviewnya jadi penasaran, soalnya senasib.. Hahahaa… Bisa lah ntr ditonton…. biar belajar… Thx infonya kak.

  5. Reviewnya lengkap sekali mas. Membuatku membaca sambil berimajinasi tentang apa yang terjadi.

    Apa yang diceritakan mendekati realitas apa yang terjadi di masyarakat saat ini.

  6. Heeem jadi penasaran sama film ini abis baca reviewnyaa.. dulu waktu review five feet apart juga bikin pengen nonton.
    Film ini menggambarkan stereotype orang indonesia kebanyakan lah ya. Ditanyain kapan nikah mulu. Kalo nggak disuruh kerja jadi PNS. Hahah. Oke deh aku mau cari2 filmnya.

  7. Saya belum pernah menonton Love for Sale 1 maupun Love for Sale 2 tapi referensi ini membuat saya sedikit banyak bisa membayangkan keseruan film ini. Thema yang diangkat juga menarik.

  8. Aku nonton Love For Sale 1, tapi blm nonton Love For Sale 2. Dari ulasan kamu, kayaknya Arini selalu mempelajari terlebih dahulu latar belakang kliennya sebelum menerima pekerjaan di aplikasi kencan itu. Yang jadi pertanyaan, apakah ada orang sesempurna Arini yg bukan saja dapat menaklukkan hati kliennya tp juga orang-orang di sekitar kliennya. Dalam kehidupan nyata aja, kadang yang udah bertahun-tahun pacaran blm dpt diterima oleh keluarga si pacar. Pertanyaan lain yg penonton ga pernah tahu, brp fee untuk Arini, yg bagi aku punya tugas yang sangat-sangat berat.

  9. Ribetnya, kalo perasaan manusia dijadiin komoditas..hehe.
    Yang salah siapa?
    Yang salah yangbaper, ngga komit sama rule dari permainan..hehe.

    Btw, gw setuju, kalo film ini bagus buat ditonton milenial atau ortunya untuk menghargai prinsip orang lain.
    nice sharing.

  10. Budaya timur memang selalu merasa berhak atas jalan hidup orang lain. Kalau kaka Tuti yang berdarah minang, tetapi ninik mamaknya sudah berpikiran maju. Beda dengan kondisi saya dimana ninik mamak berhak menentukan jalan hidup saja. Dan kebijakan yang diputuskan tersebut hanya untuk menggugurkan kewajiban sosial di lingkungan saja.

    Penasaran jadi pengen nonton, udah perna liat Trailernya di bioskop, waktu mau nonton film Joker.

  11. aku baca review nya aja sudah sukaa kak mosess, sudah masuk list utk film Love For Sale 2 ini.
    liat trailer nya aja sdh suka dengan cara Della memerankan kembali arini, dan penasaran dengan akting adipati. krn masih terbayang-bayang sm richard di LFS 1.

  12. Kemarin sempat tau film ini karena salah seorang saudara sempat mention mau nonton film ini. Dilihat jadi judulnya, aya kira bakal jadi film menye menye yang melulu bahas soal cinta. Setelah baca review ini ternyata bagus juga isu yang diangkat. Baiklah, nanti saya akan nonton di Garuda Indonesia hehe

  13. Film “Love For Sale 2” sepertinya cukup menarik nih.
    BTW, profesi untuk milenial, seperti youtuber memang tidak terlalu menjadi idaman buat generasi seperti saya ini yang memang gak kekinian…

  14. Ngebaca ulasannya aja udah kyk aku nonton langsung, untung ga spoiler yaak Sess wkwk. Aku penasaran endingnya gimanaa sama si Arini, apalagi ibu Ros udah ngerasa klop gitu. Jadi penasaran kannn wkwk

  15. Aku enggak nonton Love for Sale 1, tapi karena dikasih gambaran aku jadi jadi bisa bayangin, meski penasaran kenapa patah hati berat..hm
    Jadi Love for Sale 2 juga masih patah hati lagi atau apa ya.
    Ku jadi pengin nonton jadinya.
    Suka film yang berlatar keseharian begini, kek lihat kehidupan sehari-hari.

  16. Sinematography okay yaa. Banyak yang bilang lebih seru yang pertama. Walau sama” relevan di kehidupan nyata. Tapi film ini memang wajib dalam list film yang ditonton weekend ini hoho

    Nice review! ☺️

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *