[Review] Film “Dua Garis Biru” (2019), Problematika Remaja dan Peran Orangtua

Beberapa waktu lalu, dunia maya sempat dibuat heboh dengan adanya gerakan petisi untuk memboikot penayangan sebuah film karena dianggap sarat akan unsur negatif dan dapat memberikan pengaruh buruk bagi generasi milenial. Padahal, film tersebut belum tayang. Setelah proses panjang, akhirnya pada tanggal 11 Juli kemarin, film ini tayang dan berhasil mematahkan reaksi negatif yang menilai film ini terlalu gamblang menceritakan dinamika remaja.

Bersyukur, saya bukan salah satu pendukung petisi tersebut. Karena bagi saya, sebuah film pasti dibuat dengan riset yang mendalam dari sebuah keresahan dan memiliki pesan tersembunyi di dalamnya. Melalui film, diharapkan pesan tersebut akan dapat tersampaikan kepada masyarakat dengan cara yang berbeda. Hal itu terbukti setelah saya menonton film ini.

Judul Film : Dua Garis Biru

Sutradara : Gina S. Noer

Penulis Skenario : Gina S Noer

*SINOPSIS DAN PEMBAHASAN DI BAWAH INI HANYA MENGANDUNG SEDIKIT DARI ISI CERITA KESELURUHAN.*

Sinopsis Singkat Dua Garis Biru

Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Yunanda) adalah sepasang kekasih. Mereka adalah murid SMA di Jakarta. Suatu hari, Bima berkunjung ke rumah Dara dan melakukan hal di luar batas dan menyebabkan Dara hamil. Padahal Dara memiliki mimpi untuk berkuliah di Korea.

Setelah mengetahui bahwa Dara hamil, Bima dan Dara harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka demi masa depan. Mereka mulai mencari solusi permasalahannya, mulai dari upaya menyembunyikan perut, hingga rencana aborsi. Seperti bangkai yang disembunyikan, perlahan kehamilan Dara diketahui oleh pihak sekolah. Kedua orangtua mereka pun akhirnya mengetahui dan mengambil sikap masing-masing.

Kini Dara dan Bima harus menjalani kehidupan mereka yang baru sebagai calon orangtua. Hal itu mengancam masa depan Dara untuk kuliah di Korea. Mampukah Dara dan Bima mempertanggungjawabkan perbuatan mereka? Bagaimana dengan masa depan mereka? Apakah Dara berhasil melanjutkan pendidikan ke Korea? Lalu, apa yang terjadi dengan anak mereka? Temukan jawabannya dalam film Dua Garis Biru di biskop-bioskop kesayangan Anda.

dua garis biru

Debut Pertama Gina Menjadi Sutradara

Oke, pertama saya ingin memberikan standing applaus untuk penulisan skenario Dua Garis Biru yang digarap oleh peraih Piala Citra kategori Penulis Skenario Film Terbaik Tahun 2013, Gina S Noer. Dalam film ini, selain menulis skenario, Gina juga tampil sebagai sutradara. Bagi yang belum tahu siapa itu Gina S Noer, beliau adalah penulis skenario salah satu film favorit saya, Posesif. Selain film Posesif, tentu masih banyak lagi film Indonesia lainnya yang lahir dari skenario apik beliau, diantaranya film Lentera Merah, Perempuan Berkalung Sorban, Hari Untuk Amanda, Ayat-Ayat Cinta, dan Habibi Ainun.

Penulisan skenario Dua Garis Biru yang diselesaikan dalam kurun waktu sepuluh tahun ini akhirnya selesai dan produser Chand Pharwez tanpa ragu menyerahkan posisi sutradara kepada Gina juga. Hal itu dibuktikan oleh Gina dengan baik dan saya rasa memang ia pantas menyutradari film Dua Garis Biru ini karena detil film sangat diperhatikan.

Dukungan Para Pemeran

Skenario apik Dua Garis Biru tersebut tentu saja tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan para pemeran baik pemeran utama, pemeran pembantu, figuran, bahkan cameo sekalipun. Saya merasa semua yang terlibat dalam film ini sangat total.

Zara JKT48 sangat baik dalam memerankan tokoh Dara. Pendalaman Zara menjadi wanita yang hamil di usia dini patut diapresiasi karena aktingnya terasa begitu natural. Akting Zara diimbangi dengan kepiawaian Angga dalam memainkan ekspresi, sehingga dialog film dapat tersampaikan dengan apik. Selain dua pemeran utama yang bermain sangat baik, pemeran pembantu dalam film ini pun bermain total.

Peran para tokoh dalam menguras emosi penonton pun sukses pada beberapa adegan, misalnya adegan di UKS sekolah. Saya merasa adegan di UKS benar-benar klimaks, ketika kedua keluarga bertemu.

Aktris senior Cut Mini dan Lulu Tobing mengambil perannya masing-masing sebagai orangtua dari strata yang berbeda. Keduanya tampil sebagai ibu yang memiliki ideologi berbeda dan teguh berdiri pada pendiriannya masing-masing. Begitupun dengan Arswendy Bening Swara dan Dwi Sasono menjadi ayah yang menjadi penengah dalam konflik.

Para figuran yang menjadi tetangga Bima pun bermain begitu total, menggambarkan suasana kota Jakarta dalam kepadatannya. Hiruk-pikuk hidup orang dewasa setelah berumah tangga digambarkan dengan jelas tanpa cela. Pemeran dokter kandungan pun tampil dengan baik menyampaikan edukasi seputar reproduksi. Asri Welas yang menjadi cameo juga mewakili budaya timur yang cenderung ingin tahu urusan orang lain.

Semua itu didukung dengan penataan suara yang baik dan juga lagu tema yang syahdu. Lagu Sulung dari Kunto Aji membuat film ini semakin menguras emosi. Lagu Jikalau dari Naif juga sangat membuat suasana haru saat Ibu Dara dan Dara berbincang tentang bayi. Lagu Growing Up yang dinyanyikan Rara Sekar pun terngiang terus di telinga.

Berawal Dari Keresahan Sederhana

Sudut pandang film ini sangat luas karena dilihat dari beberapa aspek, bukan hanya dari sisi remaja saja, melainkan dari sisi orangtua, dan juga kesehatan. Namun, isu pernikahan usia dini menjadi isu utama yang disajikan dalam film ini.

Tampaknya isu ini tidak boleh dianggap sepele. Tahun lalu, di Enam Belas Film Festival, salah satu isu yang juga diangkat adalah isu pernikahan usia dini. Lewat film pendek karya Yudho Aditya berjudul ‘Pria’, secara tidak langsung mengkritisi UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 khususnya pasal 7 ayat 1 yakni tentang batas usia menikah.

Di Indonesia sendiri, fenomena menikah di usia muda bukanlah suatu hal yang baru. Bahkan di beberapa daerah, masih saja terjadi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan peraturan tersebut tampak tak dihiraukan, misalnya kemiskinan, adat istiadat, dan juga pendidikan. Namun pernikahan usia muda yang seringkali disayangkan adalah sikap remaja yang gegabah dalam bertindak.

Edukasi Seks Yang Halus

Ada hal menarik ketika saya menonton film ini, ketika adegan Dara mengatakan kalau dirinya hamil salah satu penonton ada yang dengan spontan mengatakan ‘bego, kenapa gak pake kondom, hamil kan tuh.‘ Menurut saya, walaupun era keterbukaan informasi seperti ini mudah di akses, namun bagi remaja, edukasi seks masih minim. Setidaknya saya mengetahuinya dari guru Biologi di sekolah tempat saya bekerja. Kita terlalu memposisikan sudut pandang remaja dengan sudut pandang kita orang dewasa.

Dalam hal isu seksualitas dan pernikahan usia dini, selalu wanita yang menjadi korban. Mulai dari dikeluarkan dari sekolah, menjadi pembicaraan dalam masyarakat, hingga kehilangan kesempatan untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Tidak jarang jika ada kejadian tersebut, pihak pria meminta perempuan untuk mengaborsi kandungannya. Dalam budaya orang timur, menghamili perempuan di luar nikah adalah aib, dan biasanya aborsi
dianggap jalan terbaik menyelesaikan masalah untuk tetap menjaga nama
baik.

Film ini menyentil secara halus pentingnya edukasi seks untuk remaja. Dan film ini sukses mengedukasi tanpa menggurui. Kadang kita terlalu khawatir menyampaikan edukasi seks karena takut remaja akan terjerumus kepada hal-hal negatif. Padahal tanpa kita ajarkan pun, nantinya mereka akan mengetahuinya sendiri. Film ini memberi edukasi mengenai konsekuensi yang harus dihadapi dari pernikahan usia muda karena hamil duluan. Edukasi seks pun disampaikan secara halus dalam dialog tentang bahayanya hamil muda, risiko kematian pada ibu, apa yang harus dilakukan ayah muda, imbauan untuk berdiskusi tentang pendidikan seks di rumah, debat tentang adopsi dan aborsi.

Gina juga menyelipkan isu feminis yang dibahas secara halus tentang bagaimana peranan seorang ibu menghadapi permasalahan anaknya. Terlihat dominasi kedua perempuan yang menjadi orangtua Bima dan Dara yang memiliki pandangan berdeda dalam menyikapi masalah anak-anaknya dan mencari solusi tentang isu seks dan pernikahan usia dini.

Ibu Dara yang berasal dari strata menengah ke atas sangat peduli dengan masa depan sang anak sehingga ingin cucunya diadposi dan Dara sekolah lagi. Sementara Ibu Bima yang mewakili strata menengah ke bawah cenderung menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal dalam mendidik anak. Dialog Ibu Bima dengan Bima pun mengedukasi orangtua agar lebih sering berbicara dengan anaknya, terutama di usia remaja.

Metafora Menarik Dalam Film Dua Garis Biru

Ada banyak metafora dan simbol-simbol yang berbahasa visual dalam film ini. Kerang, stroberi, jembatan, ondel-ondel, bahkan kutipan di pintu dan baju Dara. Semua sangat metaforis. Simbol-simbol yang disajikan sangat dipikirkan secara detil.

Misalnya saja ketika Dara memisahkan kerang dara yang masih segar dan tidak segar. Kerang dara segar yang masih tertutup menyimbolkan keperawanan sementara kerang dara yang tidak segar sudah terbuka menyimbolkan kondisi Dara yang sudah tidak perawan dan Bima tidak menolak kerang yang sudah tidak segar itu. Stroberi mewakili simbol janin, dan adegan ketika Bima dan Dara memesan jus stroberi seolah menyimbolkan usaha aborsi, sementara jus stroberi yang ditinggalkan menyimbolkan keputusan keduanya.

Simbol lain yang menarik adalah ondel-ondel. Saat adegan makan kerang ada ondel-ondel pria, sementara ondel-ondel dekat rumah Bima ada ondel-ondel perempuan. Secara sederhana ondel-ondel mewakili kelas sosial Bima, yang hidup di pinggiran Jakarta. Ondel-ondel juga menyimbolkan sosok yang melindungi anak keturunan mereka. Ondel-ondel perempuan meyimbolkan beban yang harus ditanggung oleh wanita. Hal itu didukung dengan dialog yang mengatakan bahwa melahirkan itu bebannya satu kali, sementara beban menjadi orangtua adalah seumur hidup.

Sosok ondel-ondel bernama Pong yang dimintai bantuan oleh Bima juga menyombolkan bahwa Bima akan dibantu oleh seorang perempuan untuk mendorong gerobaknya, yang mana itu adalah ibunya sendiri. Simbol jembatan menjadi penghubung jurang kelas antara keduanya yang kontras berbeda secara sosial, ekonomi, agama, dan budaya.

Sementara kutipan di pintu kamar mandi Dara yang bertuliskan ‘Don’t look back you’re not going that way’ seolah memberikan kita motivasi untuk tidak melihat kesalahan di masa lalu, karena kita tidak akan bisa kembali ke waktu yang lampau. Yang bisa dilakukan adalah merencanakan hidup untuk masa depan. Kutipan di kaos dara yang bertuliskan ‘let your future unfold’ menegaskan bahwa biarkan masa depanmu terbuka lebar.

Saya senang menebak arti tanda/simbol dalam film. Karena simbol-simbol tersebut akan menghasilkan banyak interpretasi yang membuat film itu semakin kaya. Ending film yang multi tafsir membuat film ini semakin menarik karena penonon diajak untuk berimajinasi sendiri tentang akhir film ini. Pada akhirnya saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton.

Rating versi kinemadrian.com : 9.0/10

Baca juga: Toy Story 4, Perpisahan dan Sebuah Keputusan

7 Komentar

  1. aku juga sdh selesai nonton film ini, adik2ku yg msh sekolah pun aku suruh nonton film ini. krn banyak banget hal yg bisa di petik dr film ini. ini film kerennn banget, suka sama akting semua pemain. apalagi Lulu Tobing yg sdh lama banget ilang dr layar kaca tv..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *