[Review] Film “Toy Story 4”, Perpisahan dan Sebuah Keputusan

Toy Story 4 – Selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan yang akan kita ambil, termasuk meninggalkan sesuatu yang kita cinta. Meskipun sangat berat meninggalkan semuanya. Namun semuanya itu harus dilakukan, demi kebaikannya, demi kebaikanku juga.

Begitulah, semua dari kita saat menghadapi perpisahan, tidak akan pernah siap. Setiap pertemuan akan selalu meninggalkan kenangan, yang munculnya tidak pernah kita duga seperti layaknya pencuri. Menyelinap diam-diam, kemudian mengambil sedikit rasa bahagia di hati.

Baru prolog saja sudah tercurah sedikit isi di hati, ya. Tentu saja saya menuliskan ini dengan sedikit rasa galau, karena memang yang namanya perpisahan dan kehilangan bukanlah suatu hal yang mudah. Terlebih berpisah karena keadaan yang mengharuskannya demikian.

Bukan, ini bukan kisah saya yang patah hati karena kehilangan seseorang. Bukan pula curahan hati karena ditinggalkan. Ini adalah kisah para mainan milik Andy Davis yang pada cerita lalu harus berpisah dengan Andy, karena Andy sudah beranjak dewasa.

Yap, kali ini saya ingin mengulas film animasi populer yang saya yakin sudah banyak orang mengetahuinya, Toy Story. Film yang rilis pertama kali pada November 1995 meninggalkan kesan mendalam untuk saya. Bagi saya, film ini bukan hanya sebuah film animasi biasa, melainkan sebuah film yang mengajarkan saya banyak hal, terutama sebuah proses dari kecil menjadi dewasa.

Setelah seri ketiga yang ditutup dengan manis pada Juni 2010, Disney Pixar kembali merilis seri keempatnya pada Juni 2019. Saya masih ingat penutup cerita di Toy Story 3, ketika Andy datang ke rumah Bonnie dan memperkenalkan mainan-mainan miliknya satu persatu. Ada satu momen dimana saya merasa terharu, yaitu ketika Andy yang harus merelakan Woody dan teman-temannya dimiliki oleh Bonnie.

Now Woody… he’s been my pals as long as I can remember. He’s brave, like a cowboy should be, and kind and smart. But the thing that makes Woody special is that he’ll never give up on you. Ever. He’ll be there for you, no matter what. You think you can take care of him for me? – Andy to Bonnie

Begitulah, sebuah perpisahan epik antara Andy dengan para mainannya. Tidak terasa sembilan tahun berlalu, kini Disney Pixar kembali merilis kelanjutan Toy Story di seri keempatnya. Kali ini disutradarai oleh Josh Cooley yang juga membuat skenario film Inside Out.

Toy Story 4

Judul Film : Toy Story 4

Director : Josh Cooley

Screen Play : Stephany Folsom & Andrew Stanton

Rating : IMDB : 8.3/10 ; Rotten Tomatoes : 98%

Trailer

Sinopsis Singkat Toy Story 4

Cerita dibuka dengan kilas balik sembilan tahun lalu sebelum Woody dan kawan-kawan melakukan misi penyelamatan sebuah mainan. Setelah misi penyelamatan selesai, Woody harus dihadapkan kenyataan berpisah dengan pujaan hatinya Bo Peep yang sudah tidak dimainkan lagi oleh Molly (adik Andy) dan akan dibeli seorang kolektor mainan. Pada awalnya Woody sudah membujuk Bo Peep untuk kabur, namun Bo meyakinkan Woody bahwa tidak lagi ingin dimainkan oleh anak-anak adalah hal yang biasa bagi mainan. Opening cerita ini seolah menjawab pertanyaan saya tentang mengapa Bo Peep tidak muncul di Toy Story 3.

Dua tahun berselang sejak perpisahan dengan Bo Peep, kini Woody harus dihadapkan kenyataan bahwa dirinya tidak ingin dimainkan lagi oleh Bonnie, yang lebih memilih Jessie dan mainan lain untuk dimainkan. Namun hal ini tidak membuat Woody kecewa, justru hal itu membuat Woody semakin sayang dengan Bonnie. Terbukti saat Bonnie akan menjalani hari pertama orientasinya di preschool, Woody diam-diam menyelinap di tas Bonnie dan membantu Bonnie menjalani hari pertamanya di preschool.

Sepulang dari sekolah, Woody membawa masalah baru, yaitu Forky, mainan yang tidak sengaja dibuat oleh Bonnie di sekolah. Forky yang merasa dirinya sampah, selalu berusaha untuk membuang dirinya sendiri dan hal itu membuat Woody repot karena Bonnie merasa sedih saat Forky hilang ketika Bonnie pergi ke karnaval bersama keluarganya.

Tidak ingin melihat Bonnie bersedih, Woody akhirnya merelakan dirinya mencari Forky demi kebahagiaan Bonnie. Woody yang pada akhirnya menemukan Forky kemudian bercerita tentang kisahnya saat masih menjadi mainan kesayangan Andy. Perjalanan pulang ternyata tidaklah semulus yang dibayangkan. Mereka terjebak pada sebuah toko antik dan bertemu dengan Gabby, boneka berwujud anak perempuan yang sangat ingin dimainkan oleh anak pemilik toko, Harmony.

Kondisi Gabby yang ‘cacat’ tidak memungkinkan ia untuk menarik perhatian Harmony. Gabby yang menginginkan sesuatu dari Woody, pada akhirnya menyandera Forky demi mewujudkan ambisinya. Tentu saja misi penyelamatan itu tidak bisa dilakukan sendirian, Woody kemudian dibantu oleh mainan lainnya dan tanpa sengaja ia bertemu dengan Bo Peep, pujaan hatinya yang kini sudah berubah drastis sejak pertemuan terakhir mereka.

Akankah Woody dapat menyelamatkan Forky? Bagaimana akhir kisah Woody dan kawan-kawan? Akankah Gabby mendapat perhatian Harmony? Saya rasa lebih baik kalian menyaksikan sendiri keseruan petualangan para mainan ini. Sebagai bahan pertimbangan, berikut ulasan film ini versi saya.

Pengembangan Para Tokoh

Inti cerita masih berpusat pada ‘bagaimana perasaan mainan saat mereka ditinggalkan atau dilupakan oleh pemiliknya’. Seperti pada ketiga seri sebelumnya, namun saya merasa ‘mainan-mainan’ itu banyak mengalami pendewasaan seiring berjalannya waktu. Bagi mainan, mungkin mereka tidak akan pernah tua, tetapi para mainan harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa seiring berjalannya waktu mereka akan ditinggalkan dan dilupakan, entah karena sang pemilik bertumbuh dewasa atau karena sudah tidak ingin memainkannya.

Woody mengajarkan kepada kita loyalitas tanpa batas. Walaupun ia sudah diabaikan dan tidak dipilih untuk dimainkan, namun Woody tetap membantu Bonnie dalam melewati masa orientasinya di sekolah. Woody juga mengajarkan untuk berkorban demi kebahagiaan orang lain, meskipun ada harga yang harus kita bayar dari sebuah pengorbanan itu. Dari Woody saya akhirnya paham bahwa tidak semua anak akan memainkan semua yang dimilikinya. Ini semua tentang pilhan, tentang mana yang lebih disukai dan lebih dibutukan. Sama seperti halnya cinta.

Buzz Lightyear pada film ini tidak tampil seperti Buzz di film sebelumnya. Agak mengecewakan memang, karena Buzz seperti kehilangan rasa percaya dirinya. Namun satu hal yang saya pelajari dari Buzz, yaitu untuk mengikuti kata hati saat menghadapi masalah. Penampilannya sendiri membawa nostalgia tersendiri untuk saya yang memiliki figurin Buzz dari salah satu restoran fast food saat saya kecil. Sayang figurin Buzz tersebut hilang entah di mana.

Bo Peep yang biasanya tampil anggun, lembut, dan bijaksana, kini tampil mengejutkan dengan penampilan baru. Memutuskan untuk menjadi lost toys, ternyata membawa perubahan hidup untuk Bo. Di film ini, Bo Peep menjadi lebih mandiri dan tangguh. Saya merasa Disney sedang menonjolkan isu feminisme seperti halnya film Disney lain. Sebut saja Aladdin, Frozen, atau bahkan Inside Out (masih ingat, bagaimana Joy bisa mendominasi Anger).

Saya mengapresiasi usaha Disney dalam mengangkat isu feminisme. Wanita seharusnya tidak boleh terbelenggu oleh adat istiadat yang membatasi kebebasannya dalam berpikir dan bersikap. Wanita tak perlu dipilihkan, karena ia bisa memilih dan memiliki kekuasaan atas hidupnya sendiri.

Saya jadi teringat dengan Malala Yousafzai, tokoh feminis termuda yang berani menyuarakan pendapatnya mengenai kesetaraan gender dalam hal pendidikan. Ia berani menentang rezim Taliban dan menjadi simbol perlawanan terhadap kebodohan, kemiskinan dan terorisme. Malala Yousafzai pada akhirnya menjadi penerima nobel perdamaian termuda.

Tokoh Baru Yang Menarik

Tokoh baru yang muncul dalam Toy Story 4 menambah kesegaran pada film ini. Sebut saja Bunny dan Duckie, boneka berbentuk kelinci dan bebek dari tempat karnaval yang memiliki imajinasi liar. Kehadiran mereka membawa humor tersendiri, karena saya dibuat terpingkal oleh ulah mereka. Tokoh baru yang menjadi perhatian lainnya adalah Duke Caboom, mainan pengendara motor yang alih suaranya dipercayakan kepada pembunuh bayaran terkenal, John Wick, maksudnya Keanu Reeves.

Pesan Moral Yang Dalam

Keempat seri Toy Story ini banyak mengajarkan saya tentang hidup. Pertama, perubahan itu datangnya seiring perjalanan waktu, kapanpun perubahan datang, kita harus siap dengan perubahan itu. Ketika Andy beranjak dewasa, para mainan harus merelakan perubahan itu datang dan menyesuaikan dengan hal baru. Begitupun dengan kisah percintaan, kisah yang manis, seiring berjalannya waktu pasti ada saja perubahan yang mengharuskan kita menyesuaikan diri dengan perubahan itu.

Kedua, sayangi dan cintai apa yang kamu miliki selagi kamu memilikinya. Karena kita akan mengerti arti memiliki saat kehilangan. Selain itu, perasaan terluka karena dilupakan akan membekas sampai kapanpun. Film ini membuka mata saya bagaimana menghadapi kehilangan. Akankah seperti halnya Lotso yang menjadi dendam dan jahat saat melihat Daisy memiliki penggantinya. Atau seperti Gabby yang diam menunggu, berharap suatu hari orang itu akan menginginkannya? Rasa sakit karena ditinggalkan tanpa kata perpisahan sungguh menyakitkan. Jangan sampai kita melakukannya kepada orang-orang yang kita sayangi. Kalau kau tidak ingin disakiti, maka jangan menyakiti orang lain. Jika kamu ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Jika kamu tidak ingin dilupakan, maka janganlah melupakan orang lain.

Ketiga, saat kita membuka hati maka akan ada kesempatan baru. Seringkali kita terlalu fokus untuk terikat dengan satu orang dan sulit untuk melepaskan kenangan bersamanya. Padahal, banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan membuka hati untuk orang lain. Seperti halnya saat Woody diserahkan oleh Andy kepada Bonnie, atau saat Bo memutuskan menjadi lost toys, atau juga seperti Gabby yang dalam keputusasaannya menyadari hal tersebut dan belajar membuka hati untuk yang baru. Karena, pada akhirnya kita perlu sadar bahwa hidup harus dijalani ke depan bukan untuk melihat terus ke belakang.

Terakhir, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Layaknya sebuah hubungan percintaan, kisah mainan dan manusia ini pun demikian. Tidak selamanya mainan akan dimiliki oleh seorang anak, entah karena rusak, atau karena diberikan oleh orang lain. Namun, perpisahan itu akan membawa pertemuan baru. Jadi, jangan takut jikalau suatu hari kalian mengalami perpisahan.

Karena terlalu fokus dengan storyline dan screenplay yang memang keren, saya hampir saja lupa dengan unsur intrinsik lainnya. Seperti pada film Disney pada umumnya, animasi film Toy Story 4 tidak perlu diragukan lagi. Bahkan saya lupa kalau ini film animasi, karena visualnya yang sangat baik. Soundtrack film Toy Story 4 ini pun bagus dan mampu memainkan emosi saya dengan baik. Saya paling suka lagu You’ve Got a Friend in Me, yang juga menjadi OST Toy Story 2.

Menonton Toy Story 4 rasanya seperti berkaca, adegan-adegan yang digambarkan seperti merefleksikan sifat kita, manusia pada umumnya: ingin dicinta, takut kehilangan, bimbang membuat pilihan, hingga belajar merelakan. Cocok ditonton oleh orangtua yang ingin mengajarkan anak-anaknya konsep ikhlas dan memilih jalan hidup.

Secara keseluruhan, saya menilai Toy Story 4 cukup berkesan. Selain membawa nostalgia, pesan yang disampaikan dari para mainan pun menjadi pembelajaran untuk saya. Unsur humor, drama, serta haru melebur menjadi satu, menjadi warna menarik dari kisah ini. Walaupun kisah akhirnya tidak seepik seri ketiga, kisah akhir Toy Story 4 cukup menguras emosi saya terutama ketika akhirnya sebuah keputusan itu harus dibuat. Penasaran? Langsung tonton saja filmnya, selagi masih tayang di bioskop kesayangan.

Score versi kinemadrian : 90/100

Baca juga : Dua Garis Biru, Problematika Remaja dan Peran Orangtua

39 Komentar

    • Bener banget kak, Pixar pandai menyelipkan pesan-pesan moral dalam setiap ceritanya yang tetap dapat dinikmati oleh banyak orang.

  1. Disney dan Pixar kalo bikin film animasi memang totalitas. Bukan hanya sekedar visual indah tapi kaya akan momen menyentuh dan banyak pelajaran hidup yg bisa dipetik..

    Jadi ingat jaman2nya ngumpulin mainan Toy Story dari McD. Wkwkw..

    • Sama, dulu jg saya ngumpulin mainan Toy Story dari McD… Terakhir mainan yg Rex disumbangin ke acara charity. Sisanya ilang pas pindahan. Mungkin sekarang mereka jadi lost toy

  2. banyak sekali pesan yang bisa kita ambil ya dari serial toy story ini..
    aku bukan pengikut serial toy story 1 – 4, bahkan ketika diputar di tv pun aku kurang tertarik.
    tapi setelah baca reviewan kakak aku jadi penasaran banget, kepingin coba nonton dari part 1 nya.

    • Karena kita hidup pada dunia yang dinamis dan terus bergerak maju… People has changed, but they’re definitely mature day by day.

  3. Tanpa menonton filmnya, saya sudah cukup merasa tersentuh dengan paparan kak Moses tentang ‘Toys Story 4’ . Sarat pesan-pesan yang humanis.

  4. Pada awalnya saya melihat film Toy Story ini hanya film hiburan untuk anak anak. Tapi jika kita telaah film Toy Story memang banyak pesan moralnya, seperti setia kawan, berbagi atau saling menghargai.

  5. Jadi kepengen nonton juga seperti ka kartini, sering ditayangin di TV padahal, ternyata setelah baca review ni animasi banyak pesan moralnyaya gak cuma sekedar tontonan anak2.

  6. “Menuju Tak Terbatas, dan Melampauinyaaa” kata-kata Buzz yg selalu gue inget ketika nonton Toys Story. Emang epik banget si film besutan Disney & Pixar selalu gak bosenin biarpun ditonton berulang kali, kaya film Toys story sebelumnya.

  7. Saya sebenarnya bukan penggemar film animasi. Tetapi baca review ini, jadi tertarik untuk menonton filmnya. Setidaknya bisa menjadi tambahan referensi bagaimana sebuah PH mengemas dengan baik film animasi

  8. Duh kak baru intro aja sedih bacanya, toy story menjadi salah satu film animasi favorite karena terselip banyak pelajaran hidup. Suka sedih sama woody tuh kok sabar banget ya, tulus banget. Jadi suka bayangin mainan di rumah kaya woody juga ga yah???

  9. Aku baca review moses aja kok sedih yaa.. kayaknya mewek nih kalo liat beneran.. walaupun diceritakan dalam bentuk mainan sebenernya cerita2 toy story ini juga sangat relevan buat kehidupan sehari2. Gimana cara kita menghadapi hal-hal pahit macam ditinggalkan dan tidak diinginkan. Ah.. melow jadinya

  10. Setelah 9 tahun akhirnya…

    Film wajib masa kecil nih, sekarang ga kerasa udah gede aja masih nonton Toy story. Kalau di-flashback Pixar emang film animasinya emosional” yaa.

  11. Aku kok merasa bukan baca review film Toy Story 4 ya..beneran dalem tulisan ini euy..
    Dan setuju sekali dengan bahasan perpisahan dan sebuah keputusan. Terutama isu feminisme yang disentil di sini.
    Ya, memang film Disney selalu apik dan melalui riset yang sungguh mengulik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *