[Review] Film “Aruna dan Lidahnya” (2019), Perjalanan Rasa Konspirasi

Aruna dan Lidahnya
Trailer

“Hidup itu, kayak makanan, di dalam satu piring ini, elo bisa ngerasain pahit sepahit-pahitnya, sampai asin yang seasin-asinnya. Kalo elo makannya sendiri-sendiri.”

Chef Bono – Aruna dan Lidahnya

Berbicara soal rasa, pasti identik dengan lidah. Padahal rasa bukan hanya sesuatu yang dapat dicecap dengan lidah, namun juga oleh hati. Oke abaikan saja pembukaan galau saya ini, karena memang benar ketika kita menikmati makanan, kita dapat merasakan rasa manis, asin, asam, atau pahit dengan lidah. Begitupun hati, yang bisa mencecap rasa senang, sedih, penasaran, marah, atau kecewa.

Kali ini saya ingin mengulas film Aruna dan Lidahnya yang disutradari oleh Edwin, peraih Piala Citra kategori ‘Sutradara Terbaik FFI 2017’ berkat kesuksesannya menggarap film ‘Posesif’ yang juga meraih Piala Citra kategori ‘Film Terbaik FFI 2017’. Biasanya Edwin tampil sebagai juru masak film indie dan film pendek, namun kali ini ia menjadi koki sebuah film adaptasi novel dengan judul sama karya Laksmi Pamuntjak.

Sebagai pembaca novelnya, tentu saya punya banyak ekspektasi lebih terhadap film Aruna dan Lidahnya karena biasanya film adaptasi novel tidak sebagus yang dibayangkan, setidaknya menurut saya. Namun, Edwin mampu meracik isi novel ini dengan bumbu yang pas, sehingga film ini menarik untuk dinikmati. Oke, saya mulai saja ulasannya.

Aruna (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) seorang epidemiologist (ahli wabah) yang bekerja di One World, sebuah NGO yang bergerak di bidang kesehatan. Aruna yang juga memiliki obsesi mencari resep rahasia nasi goreng Mbok Sawal, asisten rumah tangga Aruna saat ia masih kecil, menceritakan keresahannya itu kepada sahabatnya, Bono.

Bono (diperankan oleh Nicholas Saputra) seorang chef profesional yang memiliki obsesi untuk mencari resep asli Nusantara untuk menu restorannya kemudian menjawab keresahan Aruna dengan mengajaknya pergi mencari ‘nasi goreng Mbok Sawal’ itu dengan berwisata kuliner bersama. Namun sebelum niat itu terlaksana, Aruna diminta oleh atasannya, Pak Burhan (diperankan oleh Deddy Mahendra Desta) untuk menyelidiki kasus wabah flu burung yang saat itu tengah merebak di beberapa kota di Indonesia.

Selalu ada jalan menuju ke Roma, ternyata tugas menyelidiki kasus wabah flu burung itu disambut baik oleh Bono yang kemudian menawarkan diri untuk menemani Aruna bekerja, dengan tujuan di sela-sela waktu Aruna bekerja akan digunakan untuk berburu kuliner di kota yang mereka kunjungi.

Bono diam-diam mengajak Nadezhda (diperankan oleh Hannah Al Rasyid), seorang penulis buku kuliner yang memiliki obsesi mencari bahan tulisan untuk buku keduanya. Bono mengajak Nad karena sebenarnya ia memiliki perasaan cinta terhadap Nad. Tanpa diduga, Nad menyambut baik ajakan Bono untuk mencari bahan tulisan tentang makanan khas Nusantara.

Akhirnya perjalanan mereka mencari obsesinya masing-masing dimulai di kota Surabaya. Di Surabaya, Farish (diperankan oleh Oka Antara) seorang dokter hewan, mantan rekan kerja Aruna yang saat ini bekerja untuk Direktorat Penanggulangan Wabah dan Pemulihan Prasarana (PWP2), telah menunggu kedatangan Aruna. Farish yang ditugaskan untuk mendampingi investigasi Aruna akhirnya ikut dalam perjalanan Aruna, Bono dan juga Nad. Sejak dulu Aruna menyukai Farish, namun belum sempat menyatakan cinta, Aruna mundur secara heroik.

Perjalanan berlanjut ke kota berikutnya, dimana investigasi mereka pun tidak mendapat hasil yang berarti. Yang menjadikan film ini menarik adalah chemistry antara Aruna, Bono, dan Nadezhda. Tingkah laku, cara mereka bercakap, dan berinteraksi amat sangat natural dan mengalir begitu saja. Nyaris seperti tidak membaca naskah.

Menonton Aruna dan Lidahnya, saya merasa seperti menonton tiga orang sahabat yang sedang makan di sebuah rumah makan. Isi perbincangan mereka juga terkesan santai, terdengar amat ringan, meski sebenarnya tidak juga. Persis seperti percakapan sehari-hari. Konflik kemudian mencapai puncaknya saat Aruna pada akhirnya menyadari bahwa perjalanan ini tak lebih dari sebuah konspirasi cinta dan juga pekerjaan.

Aruna&Lidahnya_6
Sumber Gambar : Instagram @PalariFilms

Penokohan, salah satu kekuatan Aruna dan Lidahnya

Edwin mendeskripsikan karakter-karakter ini amat rapi. Empat tokoh utamanya terbangun dengan motivasi jelas dan dibentuk secara teliti. Tak cuma bertumpu pada dialog tapi juga pada penampilan, kostum, dan sifat empat karakter utama ini tanpa perlu dijelaskan panjang lebar lewat dialog.

Misalnya lewat pakaian Bono, kita bisa menilai sifatnya yang santai, simpel dan supel. Atau Farish yang sering menggunakan kemeja polos berwarna abu-abu atau biru tua kita bisa menyimpulkan bahwa Farish adalah orang yang kaku, masa bodoh, dan sedikit keras kepala.

Lewat teknik breaking the fourth wall yang dilakukan Aruna, atau teknik bercerita yang seolah-olah tokoh tersebut menembus layar dan berinteraksi langsung kepada penonton, membuat film ini menjadi lebih menarik. Penonton diajak untuk berimajinasi seolah sedang diajak berdialog oleh sang tokoh.

Bumbu lainnya adalah kisah asmara mereka berempat yang menarik. Bono yang naksir berat Nad, tapi tidak berani menyatakan cintanya. Begitu juga dengan Aruna yang menyukai Farish yang menjadi selingkuhan orang. Sementara Nad merasa hampa akan petualangannya dengan suami orang lain. Ini membuat konflik Aruna & Lidahnya bukan cuma seputar makanan, tapi juga cinta, bahkan konspirasi.

Bumbu Edwin yang paling khas di film ini adalah simbol-simbol lewat adegan yang secara tersirat disisipkan secara rapi untuk melakukan kritik sosial dalam masyarakat. Dialog yang ringan, namun sebenarnya tidak ringan pun menjadi unsur paling menarik dari film ini. Ada banyak diskusi yang diselipkan Edwin. Mulai dari korupsi sampai perkara reproduksi dan kontrasepsi.

Dan yang tidak ketinggalan adalah referensi makanan Nusantara yang disajikan dalam film ini membuat saya tidak kuasa menahan ingin mencari makanan tersebut. Setidaknya ada 21 makanan yang dipresentasikan sepanjang film. Dan Edwin tidak main-main dalam mempresentasikan makanan-makanan tersebut karena dijamin anda akan lapar setelah selesai menonton. Berikut ini adalah beberapa makanan yang dipresentasikan dalam film.

Baca juga : [Review] Film “Toy Story 4”, Perpisahan dan Sebuah Keputusan

1. Pengkang, makanan khas Pontianak yang unik

Kuliner khas dari Kalimantan Barat yang mirip seperti lemper, terbuat dari beras ketan, ebi dan lobak asin, dibentuk segitiga dan dibungkus daun pisang. Cara memasaknya cukup unik, dua buah pengkang dijepit menggunakan kayu atau bambu, kemudian dibakar di atas bara api.

2. Lorjug, seafood tradisional Pamekasan

Lorjuk adalah sejenis kerang laut yang banyak ditemukan di tepi pantai pesisir Madura. Isinya terdiri dari irisan lontong, mie soun yang sudah dimasak, kacang (Oto’) yang dimasak dengan bumbu manis, kecambah goreh, remahan peyek, kemudian disiram dengan kuah Campor Lorjuk dan tidak lupa diberi taburan Lorjuk yang sudah dimasak dibagian atasnya sebagai topping.

3. Bakmi Kepiting & Choi Pan, makanan khas Singkawang yang menawan

Kuliner khas Pontianak ini bahkan disebut surga oleh Nad. Semangkuk mie telur disajikan bersama capit kepiting, fish cake, udang, kekian, pangsit goreng, telur kepiting hingga taburan daun bawang. Sedangkan Choi Pan adalah makanan khas Singkawang semacam pangsit yang dikukus. Kulitnya terbuat dari campuran tepung beras dan tepung tapioka. Isinya bermacam-macam ada sayuran (baby pok coi), bengkuang, ditambah dengan ebi atau ayam.

4. Rujak Soto, dua makanan yang seharusnya tidak bersatu

Kombinasi dari Rujak dan Soto. Isinya berbagai sayuran yang direbus, seperti kangkung dan taoge, lalu diulek bersama kacang, gula merah, dan petis. Rujak yang sudah jadi kemudian ditempatkan di dalam mangkuk yang berisi potongan lontong. Setelah itu disiram kuah soto babat yang masih panas. Sotonya mirip dengan soto Madura yang kuahnya berwarna kuning bening. Menurut saya rasa rujaknya lebih dominan, macam hubungan yang sebenernya ngga harus bersatu dan harusnya berpisah memilih jalannya masing-masing agar rasanya lebih enak.

Oh iya, di film Aruna dan Lidahnya saya paling suka dengan tokoh Nadezhda karena Nad menjadi variasi yang membuat film ini tidak monoton. Atau bisa jadi karena tokoh Nad begitu dekat dengan saya secara pribadi. Berikut beberapa kutipan dialog Nad yang paling membekas dalam ingatan saya.

“Ya loe pikir orang pergi jauh-jauh buat apa, Run, kalo bukan nyari alesan untuk pulang.”

“…ya cuma bisa sampe situ sih tepatnya. Mau lebih gak bisa. Mau jalan-jalan sambil gandengan tangan gak bisa, mau liburan bareng apalagi.”

Adegan lain dalam film Aruna dan Lidahnya yang begitu dekat dengan saya adalah saat Aruna menelepon mamanya, yang akhirnya mengungkap resep rahasia ‘nasi goreng Mbok Sawal’. Penasaran? Tonton aja filmnya.

Terakhir, saya ingin memberikan testimoni bahwa Aruna dan Lidahnya diracik oleh koki yang tepat karena presentasinya sangat pas dan enak untuk dinikmati. Saya juga berkesempatan mengikuti diskusi film dan berfoto dengan Edwin, sang sutradara. Akhir kata, selamat menikmati film ini dan semoga anda bisa menikmatinya.

Rating : 8.9/10

8 Komentar

    • Kalau bicara seru atau tidak, kembali lagi ke selera sih, mbak. Tapi overall saya suka dengan film ini karena digarap dengan begitu apik walau ada beberapa perbedaan dari bukunya. Iya, semoga segera ada versi online-nya.

  1. Jujur, saya belum membaca novelnya, jadi saya tidak punya ekspektasi saat hendak nonton film ini.

    Saya hanya penasaran bagaimana mutu dari fiksi kuliner yang diangkat ke layar lebar. Ternyata hasillnya cukup memuaskan. Kami langsung berburu mi pontianak afterwards.

    • Saya juga setelah menonton Aruna dan Lidahnya langsung ke Gading untuk mencari Mie Kepiting Pontianak. Sepanjang film hanya bisa menahan liur saat Aruna, Bono dan Nad menikmati makanannya. Bagi mereka makan tidak hanya sekedar makan, tapi makan adalah hidup.

  2. Jadi Nad itu pelakor ya..
    Hhhmmm.. Menarique, makanan²nya juga menggugah selera, meski bakmi kepiting dan choi pan itu udah sering saya makan.. ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *